Thursday, 20 April 2017

Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar


...

Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar

Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar
Allan Nairn. tirto.id/Sabit
tirto.id - Rekan-rekan Donald Trump di Indonesia telah bergabung bersama para tentara dan preman jalanan yang terindikasi berhubungan dengan ISIS dalam sebuah kampanye yang tujuan akhirnya menjatuhkan Jokowi. Menurut beberapa tokoh senior dan perwira militer dan intelijen yang terlibat dalam aksi yang mereka sebut sebagai "makar", gerakan melawan Presiden Jokowi diorkestrasi dari belakang layar oleh beberapa jenderal aktif dan pensiunan.19 April, 2017dibaca normal 10 menit
Investigasi tentang persekutuan para jenderal mendongkel Jokowi lewat kasus Almaidah.

Pendukung utama gerakan makar ini termasuk Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI dan salah satu penyokong politik Donald Trump; dan Hary Tanoe, rekan bisnis Trump yang membangun dua Trump Resort, satu di Bali dan satu di dekat Jakarta.

Laporan tentang gerakan menjatuhkan Presiden Jokowi ini disusun berdasarkan sejumlah wawancara dan dilengkapi dokumen dari internal tentara, kepolisian, dan intelijen yang saya baca dan peroleh di Indonesia, juga dokumen Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang dibocorkan Edward Snowden. Banyak sumber dari dua belah pihak yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya. Dua dari mereka mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan mereka.   

Siapakah Allan Nairn? Baca kiprah dan sepak terjang Allan Nairn: Mimpi Buruk Para Jenderal.


Usaha Makar

Protes besar-besaran muncul menjelang Pilgub DKI Jakarta 2017. Mereka menuntut petahana Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Ahok, dipenjara atas tuduhan penistaan agama. Dengan pendanaan yang baik dan terorganisir, demonstrasi berhasil mengumpulkan puluhan ribu–beberapa sumber menyebut hingga jutaan–di jalanan Jakarta.

Dalam perbincangan dengan tokoh-tokoh kunci gerakan perlawanan terhadap Ahok, diketahui kasus penistaan agama ini hanya dalih untuk tujuan yang lebih besar: menyingkirkan Joko Widodo dan mencegah tentara diadili atas peristiwa pembantaian sipil 1965–pembantaian yang dilakukan militer Indonesia dan didukung pemerintah AS. Aktor utama dalam 'serangan pembuka' yang berperan sebagai penyuara dan pendesak adalah Front Pembela Islam (FPI), yang diketuai Rizieq Shihab. Bersama Rizieq, dalam rantai komando juga ada juru bicara dan Ketua Bidang Keorganisasian FPI, Munarman, serta Fadli Zon.

Munarman, yang sempat terekam hadir dalam pembaiatan massal kepada ISIS dan Abu Bakar al Baghdadi, adalah pengacara yang bekerja untuk Freeport McMoran, yang saat ini dikendalikan oleh Carl Icahn, sahabat Donald Trump. Meski koneksi Trump tampak penting dalam plot makar ini, belum diketahui apakah Trump atau Icahn punya hubungan langsung. Sementara Munarman tidak menanggapi permintaan komentar untuk artikel ini.

Arsip Snowden menyimpan banyak dokumen terkait FPI. Termasuk di dalamnya dokumen yang menuliskan bahwa kepolisian Republik Indonesia tak berani menangkap FPI karena takut serangan balik, dan dokumen lain yang memaparkan FPI adalah cabang dari Jemaah Islamiyah, jaringan jihad yang terlibat dalam Bom Bali tahun 2002, dan dokumen pengiriman senjata api dari Kepolisian Republik Indonesia untuk latihan anggota FPI Aceh. NSA dan Gedung Putih tak merespons tulisan ini.

Sementara gerakan protes besar-besaran yang digelar FPI berlangsung selama enam bulan terakhir, saya mendapatkan informasi yang rinci dari lima laporan internal intelijen Indonesia. Laporan-laporan itu disusun oleh tiga agen pemerintah Indonesia. Seluruhnya dikonfirmasi oleh sedikitnya dua tokoh militer, intelijen, atau staf istana.

Salah satu laporan menyatakan bahwa gerakan ini sebagian didanai Tommy Soeharto--anak diktator Soeharto--yang pernah masuk bui gara-gara menembak mati hakim yang memvonisnya bersalah. Sumbangan finansial Tommy juga diakui oleh Jenderal (Purn) Kivlan Zein. Kivlan sendiri, yang membantu FPI memimpin protes besar-besaran di Jakarta pada November lalu, sedang menghadapi ancaman penjara dengan tuduhan makar. Ia juga bekas pemimpin tim kampanye Prabowo dalam pemilu 2014.

Laporan lain menyatakan bahwa sebagian dana berasal dari Hary Tanoe, miliuner rekanan bisnis Donald Trump. Para tokoh penting gerakan protes itu--beberapa di antaranya saya temui pada Jumat silam--berkali-kali menekankan kepada saya bahwa Hary adalah salah satu pendukung mereka yang terpenting. Mereka berharap Hary dapat jadi penghubung antara Prabowo dan Trump.

Manimbang Kahariady, salah seorang pejabat Partai Gerindra, mengaku ia berjumpa Hary tiga hari sebelum pertemuan kami. Ia dan tokoh-tokoh gerakan yang lain yakin bahwa Hary memberitahu Trump mengenai pentingnya mendukung mereka dan menyingkirkan lawan-lawan mereka, dan itu dimulai dari Ahok.

Tommy Soeharto tak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan. Harry Tanoe menolak berkomentar.

Laporan ketiga menyatakan bahwa sebagian dana gerakan FPI berasal dari mantan presiden dan Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)--informasi yang membikin jengkel Presiden Jokowi ini terbongkar kepada khalayak dan kemudian ditanggapi SBY dalam mode marah. SBY langsung menyatakan bahwa itu dusta belaka dan pemerintah telah menjahatinya dengan cara menyadap teleponnya.

Tujuh staf intelijen/militer aktif dan pensiunan menyatakan kepada saya bahwa SBY memang menyumbang untuk aksi protes FPI, tetapi menyalurkannya secara tidak langsung. Salah satu informan tersebut adalah Laksamana (Purn) Soleman Ponto--bukan pendukung gerakan makar--mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasehat aktif Badan Intelijen Negara (BIN). "SBY menyalurkan bantuannya lewat masjid dan sekolah," kata Soleman.

Hampir semua pensiunan tentara dan sebagian tokoh militer, menurut Soleman, mendukung tindakan SBY tersebut. Ia mengetahui hal ini karena -- selain keterlibatannya di dunia intelijen -- jenderal-jenderal pro makar adalah rekan dan kawan-kawannya, banyak di antara mereka berhimpun dalam grup WhatsApp "The Old Soldier".

Menurut Soleman, para pendukung gerakan makar di kalangan militer menganggap Ahok cuma pintu masuk, gula-gula rasa agama buat menarik massa. "Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Jokowi," katanya.

Caranya tentu bukan serangan langsung militer ke Istana Negara, melainkan "kudeta lewat hukum", mirip-mirip kebangkitan rakyat yang menggulingkan Soeharto pada 1998. Hanya, kali ini publik tidak berada di pihak pemberontak--dan tentara nasional Indonesia, alih-alih melindungi Presiden, lebih senang ikut menggerogotinya.

"Makar ini bakal kelihatan seperti pertunjukan People Power," ujar Soleman. "Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur", dan presiden sudah terjengkang saat mereka bangun.

Skenario lainnya: aksi-aksi protes yang dipimpin FPI bakal menggelembung kelewat besar, membikin Jakarta dan kota-kota lain kacau-balau, lalu militer datang dan menguasai segalanya atas nama menyelamatkan negara. Kemungkinan penuh kekerasan ini dibicarakan secara rinci oleh dua pemimpin FPI, Muhammad Khattath dan Usamah Hisyam, saat saya bertemu mereka Februari lalu (Usamah adalah penulis biografi SBY yang berjudul SBY: Sang Demokrat).

Lebih dari urusan keagamaan, menurut mereka masalah terbesar Indonesia saat ini adalah komunisme gaya baru, dan militer harus siap turut campur dan menggembalakan keadaan karena Indonesia belum cukup dewasa untuk demokrasi. Jokowi, kata mereka, menyediakan lahan bagi komunisme dan satu-satunya organisasi yang cukup kuat buat menghadapi komunisme ialah tentara nasional.

Mereka mengaku sudah punya daftar orang-orang komunis di Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah yang mereka incar. Di lapangan, mereka mengikuti panduan taktik dan strategi dari seorang jenderal antikomunis yang bekerja bersama mereka. Tentara hanya mungkin ikut campur bila ada kekacauan. Dalam keadaan damai, mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Khattath dan Usamah berkata kepada saya bahwa mereka tidak menginginkan pertumpahan darah. Mereka ingin kudeta damai, tetapi juga menekankan bahwa dalam beberapa pekan ke depan bakal ada revolusi oleh umat. Istana ketakutan, kata mereka.

Setelah Khattath ditangkap polisi dengan tuduhan makar, Usamah mengirimkan pesan kepada saya bahwa kini ia mengambil kendali perjuangan di lapangan--sebagaimana  peran Khattath setelah imam besar FPI Rizieq Shihab digembosi skandal seks dan masalah-masalah lain.

1965, Lagi

Segera setelah wawancara kami selesai, saya menerima dokumen dari seorang perwira militer, yang bisa dianggap sebagai template untuk komentar-komentar Khattath dan Usamah tentang aksi-aksi jalan. Berjudul “Analisis Ancaman Komunis Gaya Baru di Indonesia”, dokumen tersebut merupakan rangkaian salindia powerpoint yang digunakan sebagai materi pelatihan ideologis di tangsi-tangsi militer seantero Indonesia.

Komunisme Gaya Baru, disingkat “KGB”, adalah sebuah konsep yang mengisahkan ancaman komunis melalui cerita-cerita tentang sosok Stalin, Pol Pot, dan Hitler—dan  tampaknya ancaman ini cukup luas sampai-sampai mencakup siapapun yang mengkritik TNI.

Mengacu pada kebijakan yang dituding berwatak komunis seperti “program kesehatan dan pendidikan gratis,” dokumen itu mencela “pluralisme dan keragaman dalam sistem sosial” sebagai ancaman khas “KGB” yang sedang pasang di Indonesia. Dengan menggunakan teknik penilaian ancaman (threat assessment techniques) yang diambil dari nukilan-nukilan doktrin dan teks intelijen Barat—kadang ditulis dalam bahasa Inggris—dokumen tersebut memperingatkan bahwa kaum komunis “sedang memisahkan tentara dari rakyat” dan “memanfaatkan isu-isu hak asasi manusia dan demokrasi, seraya memosisikan diri sebagai korban demi meraih simpati.”

Pernyataan tentang korban-korban pelanggaran HAM jelas merujuk pada tokoh-tokoh seperti Munir Said Thalib, teman saya, seorang pembela keadilan sosial yang brilian, yang dibunuh pada tahun 2004 dengan dosis besar arsenik yang menyebabkan dia muntah sampai mati dalam sebuah penerbangan ke Amsterdam; atau korban pembantaian 1965 yang berjumlah sekitar satu juta warga sipil, yang dibunuh oleh tentara dengan dukungan AS dalam rangka mengonsolidasikan kekuasaan setelah percobaan kudeta.

Ihwal pembantaian 1965 muncul ketika saya berbincang dengan Jenderal (Purn) Kivlan Zein, yang mengatakan bahwa jika Jokowi menolak tunduk pada keinginan tentara, taktik serupa bisa dikerahkan lagi.

Sebagaimana banyak pejabat yang sempat berbincang dengan saya, Kivlan menyatakan gerakan jalanan yang didukung tentara dan krisis saat ini buntut dari Simposium 1965, yang memungkinkan penyintas dan keturunan korban '65 untuk membicarakan secara terbuka apa yang telah menimpa mereka dan menceritakan bagaimana orang-orang yang mereka cintai meninggal. Bagi sebagian besar tentara, simposium tersebut adalah kekurangajaran yang tak bisa diterima dan dengan sendirinya menjustifikasi gerakan kudeta. Seorang jenderal mengatakan kepada saya bahwa yang paling membuat marah rekan-rekannya adalah karena simposium itu “menyenangkan korban.” Simposium itu, tentu saja, tidak ada hubungannya dengan Gubernur Ahok atau persoalan agama mana pun, melainkan soal tentara dan kejahatannya.

“Kalau bukan karena Simposium itu, gerakan seperti sekarang ini tidak akan ada,” kata Kivlan. “Sekarang komunis sedang bangkit lagi,” keluh Kivlan. ”Mereka ingin mendirikan partai komunis baru. Para korban '65, mereka semua menyalahkan kami.... Mungkin kita akan lawan mereka lagi, seperti tahun '65.”

Saya terkejut dengan pernyataan itu. Saya ingin memastikan saya tidak keliru mendengarnya.

“Bisa saja terjadi, '65 bisa terulang lagi,” ulang Kivlan.

Alasannya?

“Mereka mencari keadilan yang setimpal.”

Dengan kata lain, Kivlan sedang membangkitkan momok baru pembantaian massal jika korban tidak berusaha melupakan. Kivlan menjelaskan secara rinci mengapa kudeta '65 dibenarkan. Dia mengatakan bahwa presiden yang digulingkan, Soekarno, yang saat itu ‘ditawan’ oleh tentara, telah memberikan perintah kepada angkatan bersenjata untuk mengambil alih kekuasaan. Dan parlemen telah “menyerahkan kekuasaan” kepada Angkatan Bersenjata.

Saya bertanya, mungkinkah itu terjadi lagi sekarang?

“Bisa saja,” jawabnya. “Tentara bisa bergerak lagi sekarang, seperti Soeharto di era itu.”

Kivlan mengatakan kepada saya bahwa Juli lalu, setelah simposium, Jokowi mengunjungi markas TNI dan menyatakan kepada para jenderal yang berkumpul saat itu bahwa “ia tidak akan meminta maaf kepada PKI.”

“Jika Jokowi tetap berada di jalur itu”—sikap tidak meminta maaf--“Dia tidak akan digulingkan. Dia akan selamat. Tapi jika dia meminta maaf: [dia] Selesai, tamat,” kata Kivlan.

Saya ingin memastikan kembali apakah dia benar-benar mengatakan bahwa  tentara akan bertindak seperti di tahun '65 lagi.

“Ya, untuk mengamankan situasi, termasuk seperti tindakan di tahun '65.”

No say surrender,” pungkasnya, dalam bahasa Inggris.

Meskipun Kivlan dipandang sebagai golongan yang cenderung ideologis di antara para jenderal, perlu dicatat bahwa banyak rekannya mulai kasak-kusuk menggulingkan Jokowi sekalipun Jokowi tidak meminta maaf. Dalam hal ini, Kivlan termasuk dalam sayap moderat. Yang luar biasa, usulan minta maaf kepada korban ternyata cukup membuat para jenderal kebakaran jenggot untuk menggulingkan presiden.

Kivlan sering disebut-sebut sebagai salah satu orang yang berjasa menciptakan FPI setelah Soeharto jatuh. Dalam percakapan kami, Kivlan membantah ikut bertanggung jawab merancang FPI, namun dia terus membahas secara rinci bagaimana kelompok tersebut hanyalah salah satu contoh yang lebih luas dari strategi tentara dan polisi untuk menciptakan kelompok-kelompok sipil binaan—yang kadang bercirikan Islam, kadang tidak—yang dapat digunakan untuk menyerang para pembangkang seraya mencuci tangan aparat.

Kivlan menyatakan bahwa beberapa hari sebelum demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada tanggal 4 November 2016, ia menerima pesan teks dari Mayjen (Purn)l Budi Sugiana yang memintanya “untuk ikut serta dan mengambil alih gerakan 411.”

Misinya, kata Kivlan, adalah “untuk menyelamatkan Indonesia,” dengan bergabung bersama pemimpin FPI Habib Rizieq di atas mobil komando selama demonstrasi, karena “mereka butuh orang untuk mengambil alih massa [di luar istana], seandainya [Rizieq] ditembak dan mati.”

Pada bulan Desember, Kivlan ditangkap polisi atas tuduhan menggulingkan Jokowi. Namun ketika kami berbincang pada akhir Februari, dia tetap saja bebas dan bahkan melancong ke luar negeri. Dia malah menyatakan sedang melaksanakan suatu misi untuk Jenderal Gatot Nurmantyo, Panglima TNI saat ini, yakni berupaya membebaskan para sandera Indonesia di Filipina.

Soal pertanyaan siapa yang diam-diam membekingi gerakan tersebut dan siapa yang betulan “komunis”, Kivlan berbicara secara on the record dan off the record, secara persis dan umum. Karakterisasinya atas sikap kawan-kawannya sesama jenderal sangat berkaitan erat dengan sikap aparat lainnya yang banyak diceritakan orang. Namun, tidak seperti kebanyakan dari mereka, Kivlan mengatakannya secara on the record.

“Begitu banyak pensiunan militer—dan yang masih aktif dalam militer—yang bersama FPI.... Karena FPI pun bertujuan melawan komunis.”

Setelah apa yang dia bicarakan tentang penggulingan Jokowi dan mengambil tindakan seperti pada tahun '65, saya bertanya: apakah Jenderal Gatot—Panglima angkatan bersenjata saat ini—setuju?

"Dia setuju!"

Tapi dia pun menambahkan, sebagai perwira yang masih aktif, Gatot harus “sangat berhati-hati” mengambil sikap di depan publik.

Pernyataan on-the-record Jenderal Kivlan tentang peran Gatot konsisten dengan jenderal-jenderal lainnya dan para penggerak kudeta, serta dengan pernyataan yang diduga bersumber dari Presiden Jokowi sendiri. Saya pun bertanya kepada seorang pejabat yang memiliki akses rutin ke presiden tentang klaim yang dilontarkan Jokowi, “apakah Gatot merupakan faktor utama dalam kudeta tersebut?” Pejabat itu menjawab, ya, presiden mengatakan itu, dalam pertemuan tertutup. Gatot tidak merespons permintaan tanggapan untuk artikel ini.

Mengenai bos lamanya, Prabowo, Kivlan berkata: "Dia tak mau dekat-dekat, tetapi dia terlibat melalui Fadli Zon." Prabowo akan kesulitan jika terlihat mesra dengan gerakan itu. Sedangkan mengenai menteri pertahanan Ryamizard, Kivlan bilang "hatinya setuju dengan tujuan kami, tetapi tidak dapat bicara."

Kivlan memuji cara Wiranto menempatkan diri. "Wiranto bagus," katanya, "karena dia mau bikin harmoni dengan gerakan" dan memperjuangkan kepentingan mereka dalam kapasitasnya selaku Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan.

Kivlan menambahkan bahwa Wiranto, yang terancam dakwaan kejahatan perang di Timor Leste, punya rencana bagus untuk perkara genting yang dihadapi tentara. Ia mendesak Jokowi supaya "tak ada pengadilan HAM."

Elegannya strategi mendorong kudeta itu adalah militer akan menang sekalipun kudeta gagal. Meski Jokowi tetap menjabat presiden, para jenderal akan aman--menurut mereka--dari pengadilan HAM. Sebab, untuk menyingkirkan segerombolan pembunuh, presiden harus merangkul kumpulan jenderal yang tak kalah bengisnya.

Yang terdepan di antara mereka adalah A.M Hendropriyono, mantan Kepala BIN dan aset CIA, yang terlibat dalam pembunuhan Munir serta serangkaian kejahatan besar lain. Sepanjang krisis ini, orang-orang Hendrolah (tentara, intelijen, polisi, sipil) yang mengepalai benteng pelindung Jokowi. Orang-orang Hendrolah yang mengatur penangkapan-penangkapan atas nama kudeta dan memincangkan Rizieq Shihab dengan skandal bokep, juga menghajar sumber-sumber dana gerakan dengan tuduhan pencucian uang ISIS.

Gantinya, Hendro dan konco-konconya memperoleh jaminan kekebalan dari peradilan. Dan dalam aturan aparat, jika mereka aman, semua orang aman. Ada persetujuan diam-diam untuk menolak prosekusi terhadap rekan, sekalipun jika kedua pihak bermusuhan.

Pada Februari, di bawah tekanan istana, pengadilan administrasi Jakarta menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi bisa menghindari kewajiban hukum merilis laporan tim pencari fakta yang secara terbuka membahas tanggung jawab Hendropriyono dalam perkara pembunuhan Munir. Janda Munir, Suciwati, dan Haris Azhar dari Kontras, mengecam vonis itu dan menyebutnya sebagai usaha "melegalkan kriminalitas".

Dengan gaya yang mirip, gerakan kudeta juga telah membantu Freeport. Sejak tahun lalu, pemerintah Jokowi, berupaya menulis ulang kontrak negara dengan Freeport dan mengembalikan hak ekspor mereka. Pada saat yang sama, pemerintah diguncang oleh gerakan yang dipimpin pengacara yang bekerja untuk Freeport.

Pada awal April, setelah gerakan permulaan yang polisi klaim sebagai empat upaya merebut Kongres dan Istana, pemerintahan Jokowi mengejutkan dunia politik Indonesia dengan tiba-tiba menyerah kepada Freeport dan memberi lampu hijau ekspor tembaga baru. Mundur tiba-tiba tidak membuat sengketa selesai--lebih dalam lagi, isu mengenai kontrak masih tersisa--tetapi, seperti yang dikatakan pejabat Jokowi kepada saya, pemerintah saat ini merasa posisinya melemah.

Dalam sebuah cerita yang berjudul lucu, “Freeport mendapat karpet merah, sekali lagi,” Jakarta Post menulis: “Pemerintah berusaha membela keputusannya, meskipun tidak ada dasar hukum yang membelakanginya... Freeport dinilai telah menghindari peluru lagi.”

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence akan mengunjungi Indonesia pada 20 April. Staf-staf pemerintahan Jokowi menduga, berbisik-bisik, bahwa tuntutan-tuntutan Freeport akan jadi prioritas utamanya. Salah seorang tokoh gerakan, dalam pertemuan kami Jumat lalu, menatap saya dan berseru: "Pence bakal mengancam Jokowi soal Freeport!"

Freeport Indonesia tidak menanggapi permintaan konfirmasi.

Dalih Penistaan Agama

Kivlan mengejutkan saya ketika menyatakan bahwa Gubernur Ahok telah memberi “sebuah berkah” kepada gerakan tersebut dengan "keseleo lidahnya" terkait Al-Maidah ayat 51.

Dalam penampilan mereka di muka publik, para pemimpin gerakan diharuskan mengklaim bahwa mereka selamanya terluka oleh ucapan Ahok. Tapi salah satu dari mereka, dengan senyum simpul, mengakui bahwa secara strategis pernyataan Ahok itu mereka terima dengan senang hati, karena ia memungkinkan FPI dan para sponsornya menggeser perimbangan kekuasaan di Indonesia, melesatkan reputasi mereka dari preman jalanan menjadi pakar agama.

Lebih dari itu, saat saya duduk dengan Usamah dan para pimpinan gerakan lain, yang dengan setengah bercanda ia sebut sebagai "politbiro", mereka secara santai berdebat tentang boleh tidaknya nonmuslim memimpin umat Islam. Mereka melakukan itu ketika mendiskusikan Hary Tanoe, yang secara berlebihan mereka puji sebagai pendukung utama gerakan mereka--melalui bantuan dana langsung dan stasiun televisinya, yang kena tegur KPI karena bias politik yang terlalu pro-gerakan secara tak wajar dan ketidakakuratan dalam pemberitaan--dan garis hidup yang mereka bayangkan terhubung dengan Presiden Donald Trump.

Mereka yang berada di ruangan itu satu suara menginginkan pemerintahan Prabowo-Hary Tanoe, Hary sebagai presiden dan Prabowo sebagai wakil, atau sebaliknya, tergantung poling.

Persoalannya, dan sepertinya tidak terlalu mengusik mereka, Hary adalah seorang China-Kristen seperti Ahok. Apabila standar yang mereka tetapkan kepada Ahok mereka pegang teguh, seharusnya Hary tidak masuk kualifikasi untuk memimpin Jakarta, apalagi Indonesia.  

==========

Laporan ini rilis pertama kali di situs The Intercept. Laporan aslinya berjudul: “Trump's Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”. Tirto mendapatkan izin dari Allan Nairn untuk mempublikasikan edisi Indonesia khusus untuk pembaca Indonesia. Penerjemahan dikerjakan dengan menanggalkan beberapa bagian yang kami anggap minor. Tentang sosok Allan Nairn, baca kisah lengkap sepak terjangnya DI SINI

Baca juga artikel terkait ALLAN NAIRN atau tulisan menarik lainnya Allan Nairn 
(tirto.id - aln/zen)

Balada Ojek Online di Indonesia

Balada Ojek Online di Indonesia

Foto: CNN Indonesia/
JakartaCNN Indonesia -- Transportasi sudah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. Salah satu jenis transportasi yang mengakar di masyarakat adalah ojek. Tapi untuk memesan ojek butuh usaha dan tarifnya tak ada yang mengatur.

Situasi ini melahirkan sistem pemesanan ojek yang memanfaatkan perangkat bergerak (mobile) berbasis sistem operasi macam Android dan iOS. Sistem pemesanan ini disukai banyak pengguna jasa transportasi di Indonesia. Model transportasi punya istilah keren, yaitu ride-sharing. 

Akan tetapi kejadian yang terjadi di lapangan, para transportasi konvensional macam ojek pangkalan dan angkutan perkotaan (Angkot) masih belum bisa menerima kehadiran pendatang baru itu. Persinggungan dan perselisihan kerap terjadi. Pemerintah pun diminta menetapkan regulasi terhadap penyedia jasa berbasis online itu. 

Regulasi Ride-sharing

Memang saatnya pemerintah mengintervensi layanan ride-sharing macam Go-Jek, GrabBike, atau Uber, yang tengah marak. Menurut saya, para pemain di jasa transportasi berbasis online ini sudah berhasil menjalankan tugasnya yakni memangkas model bisnis di transportasi dan memberikan efisiensi baik bagi pengguna atau pelaku usaha. 

Melihat kondisi infrastruktur transportasi di Indonesia, rasanya permintaan layanan ride-sharing akan terus naik walau secara operasional mereka masih merugi. 

Saat ini kondisi pemain ride-sharing memang dalam posisi buntung. Bahkan, sekelas Uber saja mengaku belum berani menarik keuntungan dari mitra pengemudi dan fokus memperbesar ekosistem. 

Belajar dari Gojek, di mana nantinya para pemain mulai masuk dalam tahap mencari laba secara operasional, jika tak ada regulasi yang jelas mulai dari model bisnis, keamanan, dan teknis lainnya, hukum rimba akan berlanjut. Melihat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih berpegang pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Artinya, ride-sharing belum mendapatkan tempat atau belum jelas payung hukumnya.

Solusi yang bisa diharapkan adalah pada roadmap e-commerce yang masih molor penyelesaiannya. Mumpung masih molor, ride-sharing selayaknya mendapat tempat pada roadmap tersebut, karena jika dilihat dari proses transaksi pantas dikategorikan sebagai kegiatan e-commerce. 

Minimal, pada roadmap e-Commerce dimasukkan tentang Service Level Agreement (SLA) antara pemilik aplikasi dengan pengguna dan mitranya untuk ride-sharing. 

Selanjutnya, kita masyarakat awam mengharapkan adanya komunikasi yang konkret antara Menkominfo Rudiantara dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk membahas aturan yang jelas tentang bisnis ride-sharing di Indonesia. Dalam aturan bisa diperjelas mulai dari jenis moda yang layak untuk ride-sharing hingga model bisnis. 

Bahkan jika ingin ekstrem layaknya di telekomunikasi, pentarifan dasar pun diatur, sehingga tak ada banting tarif antar pemain agar bisnisnya sustainable.
  
Meski dianggap memberikan dampak yang positif oleh kebanyakan penggunanya, kenyataannya layanan ride–sharing ini juga kerap mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak, baik itu pemerintah ataupun para pelaku sistem konvensional. Saat ini, yang sedang hangat menjadi perbincangan adalah gesekan yang terjadi antara layanan ojek profesional (Go-Jek dan GrabBike) dengan ojek pangkalan. 

Yang jelas, layanan ride-sharing ini masih mendapatkan 'dukungan' pemerintah meski jelas-jelas berstastus ilegal, jika berpatokan pada aturan yang berlaku. Sedangkan yang memanfaatkan roda empat, selalu saja dikejar-kejar pemerintah untuk meminta kejelasan layanan hingga status badan hukum mereka.

Jika mau melihat lebih seksama, alasannya sederhana. Kehadiran mereka telah membuat resah para pemain sistem lama yang sudah mengakar dan regulasi yang ada masih belum bisa mengakomodasi layanan sejenis ride-sharing ini. Toh pada kenyataannya Menkominfo Rudiantara pun sempat menekankan bahwa perlu ada aturan yang mengatur layanan ride-sharing ini. (ded/ded)

Thursday, 6 April 2017

Eep Saefulloh Fatah dan Politisasi Isu SARA

Eep Saefulloh Fatah dan Politisasi Isu SARA


Dalam sebuah video yang viral, Eep Saefulloh Fatah, yang konon disebut-sebut sebagai tim konsultan politik pasangan calon gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno, secara terang-terangan menyebut masjid sebagai tempat kampanye untuk meraih kemenangan. Ia meniru strategi kemenangan Partai FIS/Partai Front Keselamatan Islam (al-jabhah al-islamiyah lil-inqadh) di Aljazair yang berhasil memenangkan pemilu dengan mempolitisasi masjid.

Menurut Eep, partai FIS bisa menang pemilu di Al-Jazair karena menggunakan masjid sebagai propaganda politik. Padahal partai FIS bukan partai dengan jaringan yang kuat, tidak ada tokoh-tokoh berpengaruh yang tersebar di berbagai daerah, dan pendanaannya pun biasa-biasa saja
.
Namun, dengan jaringan masjid, Partai FIS bisa memenangkan pemilu. Sejumlah khotib, ulama dan ustadz yang mengisi kegiatan di masjid, terutama ketika sholat Jumat, tidak hanya menyerukan ketakwaan, tetapi dilanjutkan dengan seruan politik. Hal itu terus disampaikan hingga hari pencoblosan. Nah, cara Partai FIS inilah yang ditiru oleh konsultan politik Anies-Sandi untuk mengalahkan Ahok.

Satu-satunya senjata 

Secara eksplisit, Eep telah gagal menciptakan model kampanye dengan proses dialog, adu visi-misi dan strategi yang kreatif. Ia menganggap politisasi SARA merupakan satu-satunya senjata untuk mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Padahal, politisasi SARA adalah langkah mundur bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.

Tim Anies-Sandi tahu bahwa tidak mungkin bertarung soal program, sebab program Ahok sudah dirasakan manfaatnya oleh warga Jakarta, sedangkan program Anies masih wacana. Tim Anies-Sandi menilai kualitas paslon Anies-Sandi masih di bawah Ahok-Djarot, sehingga permintaan debat hanya berpotensi menunjukkan bahwa program Ahok-Djarot jauh lebih unggul daripada Anies-Sandi. Inilah penyebab Anies-Sandi tidak menghadiri debat dalam acara Rosi di Kompas TV (2/4).

Maka politisasi SARA menjadi senjata satu-satunya untuk memenangkan kontestasi Pilkada DKI. Tak heran jika menjelang Pilkada DKI putaran kedua pada 19 April 2017, intensitas penggunaan sentimen SARA semakin tinggi. Dimulai dari provokasi kebencian di berbagai masjid melalui khutbah Jumat, intimidasi jenazah, hingga aksi demonstrasi berjubah agama. Perkembangan ini tentu menjadi keprihatinan kita semua sebagai sebuah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan dan toleransi.

Kita tahu, politisasi SARA sangat tidak sehat bagi bangsa Indonesia. Karena Indonesia dikenal sebagai negara yang damai sehingga tidak boleh dirusak dengan politisasi SARA. Kita bisa lihat, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral saling berhadap-hadapan dan tidak ada masalah dan tidak timbul konflik horizontal. Sehingga sangat aneh jika ada pihak tertentu yang bermain di air keruh dengan berpolitik menjual agama.
Strategi politisasi agama ini mirip dengan aksi Ikhawanul Muslimin (IM) di Mesir yang telah meluluhlantahkan keberagaman di Mesir. Ikhwanul Muslimin menggunakan masjid untuk menarik simpati dan menyebarkan ideologi-ideologi sektarianisme agama. Mereka juga mempolitisasi ayat-ayat suci untuk kepentingan politiknya, hingga terciptalah suasana konflik sektarianisme yang sangat dahsyat yang kemudian meluluhlantahkan kedamaian di Mesir.

Tentu kita tidak ingin negeri yang damai ini seperti Mesir. Karena glorifikasi sektarianisme dan intoleransi yang mereka usung, sungguh sangat bertentangan dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika yang telah dipraktikkan sejak lama oleh para founding father kita. Agama sangat mulia, sehingga tidak elegan jika ditarik masuk ke dalam ranah politik. Oleh karena itu, agama harus diletakkan sebagai jalan kebenaran dan kebajikan, bukan direndahkan untuk tujuan politik sesaat.

Tidak ampuh

Mungkin dalam bayangan Eep, Ahok hanya bisa dikalahkan menggunakan isu politisasi SARA. Padahal, strategi Eep dengan menggunakan SARA tidak akan ampuh dalam perpolitikan DKI Jakarta. Hal ini karena publik Jakarta sudah sangat dewasa dan rasional dalam memilih paslon. Mereka akan memilih paslon berdasarkan rekam jejak dan bukan karena isu SARA. Benturan politik dengan cara menjual agama dan provokasi kebencian sama sekali tidak laku di Ibu Kota.

Publik Jakarta lebih mengedepankan rasionalitas dan pikiran jernih untuk membedakan pemimpin yang patut dipilih dan tidak patut dipilih. Dukungan kepada Basuki-Djarot yang terus mengalir mutakhir ini adalah bukti bahwa politisasi SARA sama sekali tidak ampuh untuk dijadikan senjata politik di Jakarta.

Oleh karena itu, Eep sebagai konsultan politik semestinya tidak menggunakan politisasi SARA untuk memenangkan kontestasi politik Pilkada DKI. Karena itu sama halnya menodai agama dan menciderai demokrasi yang telah lama kita bangun bersama. Provokasi fitnah dan intimidasi harus dihindari. Pilkada adalah bagian dari pesta demokrasi sehingga kegembiraan dan kebahagiaan harus dikedepankan dan bukannya ketakutan, kebencian, dan intimidasi yang justru diperlihatkan.




dari http://www.qureta.com

Monday, 27 March 2017

Sistem Khilafah Hanya Ilusi

Gus Ishom: Sistem Khilafah Hanya Ilusi

Jumat, 30 September 2016 11:04 
Pringsewu, NU Online

Setelah Rasulullah wafat, para sahabat segera bermusyawarah untuk memilih pengganti dan pelanjut estafet kepemimpinan beliau (khalifah) dari suku Quraisy. Sebagian orang Islam menjadikan peristiwa bersejarah ini sebagai salah satu dalil acuan untuk mewajibkan upaya menegakkan sistem khilafah dan kewajiban menunjuk khilafah.

Sebagian dari umat Islam ini juga apriori, tidak mengabsahkan dan bahkan berjuang keras untuk meruntuhkan setiap bentuk dan sistem lainnya.

"Saya tidak mengingkari peristiwa bersejarah tersebut, namun itu tidak lagi sejalan dan relevan dengan konteks politik kekinian. Misalnya syarat imam harus dari suku Quraisy itu sudah tidak mungkin bisa diterapkan lagi sekarang ini karena sistem khilafah kini tidak lagi berlaku dan diakui keabsahannya. Sedangkan sistem negara dalam dunia politik modern lebih memilih nation state apapun bentuknya," tegas Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Jumat (30/9).

Karena itu, menurutnya, saat ini tidak ada satu negara pun di dunia yang menganut sistem khilafah, apalagi khalifahnya berasal dari suku Quraisy. "Nation state dalam bentuk dan sistem pemerintahan apapun kini tidak bisa diingkari keabsahannya, sehingga umat Islam tidak lagi perlu berilusi apalagi memaksakan diri untuk menerapkan dan memperjuangkan sistem khilafah yang bersifat global," tegasnya.

Menurutnya, dapat dipastikan tidak akan ada satu pun negara di belahan dunia ini yang mau menyerahkan kedaulatannya secara damai atau cuma-cuma di samping tidak ada seorang khalifah yang bisa disepakati.

"Upaya tersebut selalu saja gagal sebagaimana HTI, Khilafatul Muslimin, ‘jihad’ ISIS dan lain-lain yang menghabiskan umur secara sia-sia untuk menegakkan sistem khilafah. Korban sudah berjatuhan, perpecahan dan kekacauan di beberapa negara muslim begitu nyata, namun hasilnya tidak ada alias gagal total," ungkapnya.

Lebih lanjut Ia mengingatkan bahwa nilai positif yang mestinya diteladani dari sejarah setelah wafat Rasulullah SAW adalah kewajiban untuk memilih pemimpin terbaik sehingga tidak boleh ada kevakuman dan pentingnya bermusyawarah untuk itu.

"Inilah nilai islami yang senantiasa relevan sepanjang masa untuk segala bentuk dan sistem negara dalam konteksnya yang modern," pungkasnya. 
(Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Informasi Kegiatan Jambore Pelajar Teladan Bangsa 2017

Selamat siang Bapak/Ibu Yth.

Pertama saya informasikan bahwa dalam upaya memperkuat karakter kebangsaan di lingkungan SMA/sederajat di seluruh Indonesia, MAARIF Institute for Culture and Humanity bersama dengan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud RI, kembali menyelenggarakan Jambore Pelajar Teladan Bangsa yang kelima kalinya.

Jambore Pelajar Teladan Bangsa V tahun 2017 ini mengangkat tema, “Melawan Hoax, Meneguhkan Kebinekaan”, dan akan diselenggarakan pada tanggal 7-12 Agustus 2017, bertempat di LPMP DKI Jakarta - Jl. Nangka Raya No.60, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan. 

Untuk itu, bersama ini saya kirimkan Surat Undangan, Surat Himbauan dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah KEMDIKBUD RI, ToR (proposal) Kegiatan Jambore, dan Formulir Pendaftaran.

Sebagai informasi,setiap pendaftar yang masuk akan melalui tahapan seleksi. Untuk itu kami menunggu Formulir Pendaftaran yang dilengkapi dengan 2 judul tulisan/esai (sesuai ToR), s.d. tanggal 12 Mei 2017. Bagi calon peserta yang telah lolos seleksi akan dikenakan biaya registrasi sebesar Rp.100.000,-.

Dokumen pendaftaran dapat dikirimkan melalui email maarif@maarifinstitute.org di cc ke msupriadi1977@gmail.com, dan pripihlagi@yahoo.com

Apabila Bapak/Ibu, dan atau keluarga / rekan kerja / sahabat Bapak/Ibu memiliki putra/i yang masih bersekolah ditingkat SLTA, agar dapat didorong untuk mengikuti kompetisi sebagai calon peserta kegiatan Jambore ini. Selebihnya, dokumen terlampir dapat dibawa oleh putra/i-nya ke sekolah masing-masing sebagai acuan pihak sekolah. 

Terakhir, kami sangat senang apabila Bapak/Ibu berkenang menyampaikan informasi kegiatan jambore ini, ke jaringan Bapak/Ibu.

Demikian undangan ini kami sampaikan, atas partisipasinya kami ucapkan banyak terima kasih.

Salam hangat,
--------------------------------------------------------------
M. Supriadi
t & i: @mmsupriadi   f: msupriadi
msupriadi@yahoo.com
msupriadi1977@gmail.com

MAARIF Institute for Culture and Humanity 
Jl. Tebet Barat Dalam II No.6, Tebet, Jakarta Selatan 
Telp. 021-83794554 Fax. 021-83795758 
 
 
 
 
 

Saturday, 25 March 2017

Donasi Mbak Soekarno Plasan Watugajah

Donasi Mbak Soekarno Plasan Watugajah

Alhamdulilah sedekah warga Plasan baik di perantauan jakarta maupun dimana saja dapat sedikit membantu kesulitan kehidupan sehari-hari Mbah Soekarno

Semoga berkah untuk para donatur dan bermanfaat untuk Mbah Soekarno

Bagi yang ingin beramal berupa infaq, shodaqoh baik berupa uang atau dalam bentuk lainnya dapat menghubungi saya atau melalui bank atas

Nama:  SUWARNA
Bank  :   B N I
No rek:  01552 36202

Saldo per 25 Maret 2017..
Sebesar Rp 965.850,-

 




Proses pembuatan MCK

Pembuatan MCK

Pembuatan MCK

Donasi Cash diterima oleh Mbah Soekarno

Friday, 24 March 2017

Call for Contributions - Policy Research on the Implementation of a Human Rights Based Approach in Development Partnership [Post-2015]

Dear colleagues,
Greetings from the CPDE Global Secretariat!

The CSO Partnership for Development Effectivness (CPDE) is currently implementing a three-year action entitled “Enhancing Civil Society Role in Development Partnerships Post 2015,” which aims to ensure significant CSO contribution in global and regional development policy arenas through the GPEDC and other relevant processes in light of the implementation of the new Sustainable Development Goals.
In line with this, the CPDE will produce a Policy Research on the Implementation of a Human Rights Based Approach in Development Partnership [Post-2015], which is set to examine Development Partnerships in relation to their adherence to a Human Rights Based Approach, at the different levels and sectors of development work. 

Organisations who will contribute to this initiative are expected to submit a comparative case study assessing development partnerships in their sub-region/ region, or across sectors, institutions, donors or stakeholder partners on how they implement the Human Rights Based Approach, promote Human Rights, or the Right to Development.

The case studies shall look into the various efforts of development partners to mainstream human rights across all areas of development processes. It shall also examine how HR principles and standards are adopted in the implementation frameworks of development partnerships, and the gaps in its implementations. More importantly, the studies shall propose recommendations to help shape and inform partnerships.

CPDE and IBON International invite you to be part of this initiative. If you are interested, please send an Expression of Interest with outline and abstract on or before Apr 3, 2017.
EOIs from interested organisations will be compiled by IBON International and processed by the CPDE Coordination Committee.  
The concept note and other details of the research will be released at the soonest possible time. For questions and concerns, please contact Ingrid Shannah Calapit (icalapit@iboninternational.org) with cc to Jennifer Malonzo (jmalonzo@iboninternational.org).
Thank you very much.
Best regards,

-- 
Reileen Joy Dulay
CPDE Global Coordinator
http://www.csopartnership.org
c/o Ibon Foundation
114 Timog Ave. Diliman
Quezon City, Philippines 1103
Tel. 63 2 9277001
Skype: reileenjoy

Kenapa ya, Ahok Diserang, Ahok Semakin Moncer banget

Jakarta - Tensi politik DKI Jakarta menjelang pendaftaran pasangan calon semakin tinggi. Serangan terhadap calon kepala daerah petahana Basuki T Purnama alias Ahok dan bakal calon lain akan semakin kencar. Namun, semakin gencar serangan terhadap Ahok, popularitas dia semakin naik.
“Saat ini masih banyak partai yang belum mengumumkan sikap, khususnya PDI-P, yang memiliki golden ticket di Pilgub DKI Jakarta mendatang. Jadi, suhu politik Jakarta akan terus panas,” ujar peneliti Populi Center Nona Evita Nona kepada Suara Pembaruan di Jakarta, Kamis (8/9).

Setelah diterpa isu hukum, seperti kasus Rumah Sakit Sumber Waras dan reklamasi pantai utara Jakarta, kata Nona, Ahok sekarang dihantam isu-isu terkait suku, agama, dan ras (SARA) dan juga isu penggusuran atau lebih tepat isu relokasi. Namun, Nona menilai kedua isu belum cukup kuat menggerus elektabikitas Ahok.

“Kalau untuk menggerus elektabilitas Ahok, isu-isu ini belum cukup kuat, karena dari data survei kami ternyata masih banyak masyarakat yang puas dengan kinerja petahana,” ujarnya. Selain itu, kata dia, pemilih DKI Jakarta memiliki literasi politik yang baik mengingat sudah rasional dalam menentukan pilihan.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menambahkan, serangan untuk menjatuhkan Ahok memang akan semakin masif. Namun, Ahok dinilai mendapat keuntungan positif atas berbagai serangan itu.

“Serangan pasti masif. Tetapi, jangan dianggap serangan yang kian masif itu jelek buat Ahok. Bisa positif. Ahok berada pada posisi sebagai korban politik, sehingga masyarakat menjadi simpati,” katanya.
Dikatakan, isu SARA tidak akan efektif terhadap Ahok. Elektabilitas Ahok dapat sedikit terganggu justru terkait dengan kasus-kasus penggusuran. Namun, pengaruhnya akan terasa jika isu itu diangkap secara empirik. “Kalau secara data Ahok salah, maka elektabilitasnya bisa turun. Kalau serangan tidak berbasis data, itu justru akan menaikkan Ahok,” katanya.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens mengatakan, serangan atas Ahok sangat sia-sia. “Boleh-boleh saja ada pengaruhnya isu SARA, tapi tidak signifikan. Masyarakat memiliki hati nurani untuk mengukur dan mempunyai otonomi untuk menentukan pilihan,” katanya.
Dikatakan, kampanye hitam merupakan proses politik yang tidak sehat. “Itu semua dilakukan lawan-lawan Ahok yang tidak cerdas dan tidak siap berdemokrasi. Ini yang saya sebut mereka itu kelompok pecundang,” tukasnya.

Sementara itu, menanggapi video yang mengandung isu SARA oleh mahasiswa UI dan menyerang dirinya, Ahok mengatakan, hal tersebut tidak pantas disampaikan oleh seorang mahasiswa. Ahok mengaku kesal dengan mahasiswa yang membuat video seperti itu.
“Saya pikir dia melanggar. Saya tidak berhak mengurus UI. Tetapi, kalau saya, akan saya pecat mahasiswa begitu,” kata Ahok.

Sebab, ujarnya, universitas merupakan tempat mereka kuliah dan dibiayai negara dengan memakai uang APBN. Dengan demikian, ujarnya, mahasiswa tersebut dibiayai seseorang untuk melakukan hal tidak terpuji seperti itu.

“Saya tidak rela uang pajak dari hasil kerja saya untuk membiayai seorang mahasiswa yang ketika lulus nanti menjadi seorang yang rasis. Seharusnya dia dikeluarkan. Bila perlu dia pindah ke Timur Tengah, bikin parpol kalau mau menumbangkan Pancasila,” ujarnya.



Suara Pembaruan
Yustinus Paat/Carlos KY Paath/AO
Suara Pembaruan

Thursday, 23 March 2017

Indonesia Economic Quarterly March 2017

Indonesia Economic Quarterly  March 2017
Economic growth increased for the first time in five years, rising up to 5.0 percent in 2016 from a revised 4.9 percent in 2015, despite heightened global policy uncertainty. A stable Rupiah, record low inflation, declining unemployment and soaring real wages lifted consumer confidence and private consumption. In contrast, falling government expenditure and weaker investment growth weighed on overall economic growth for the year.
The fundamentals of the Indonesian economy remain strong, with a robust rate of economic growth, the current account deficit and unemployment at multi-year lows, a conservative fiscal deficit and inflation at a record low.  Poverty and inequality also decreased in 2016.
Fiscal policy credibility was enhanced by cuts in government expenditure, along with the more achievable revenue targets in the 2017 Budget, which bolstered investor confidence.  The fiscal deficit in 2016 was 2.5 percent of GDP, lower than expected from 2.6 percent in 2015.
The current account deficit is down to a five-year low of 0.8 percent of GDP in Q4 2016, mostly due to stronger manufacturing exports. For 2016 as a whole, the current account balance narrowed to 1.8 percent, also a five-year low, from 2.0 percent in 2015.
Real GDP growth is forecast to rise to 5.2 percent in 2017, and reach 5.3 percent in 2018. Household consumption growth is projected to gain with a stable Rupiah, higher real wages and continued low unemployment.  Private investment growth is poised to increase as commodity prices recover, and the effects of monetary easing in 2016 and recent economic reforms gain traction.  Higher commodity prices will also ease fiscal constraints and lift government spending, while stronger global growth carries exports.
Inflation is expected to temporarily rise from 3.5 percent in 2016 to 4.3 percent in 2017 due to hikes in electricity tariffs and vehicle registration fees.
Risks to the growth forecast include unexpected changes in the U.S. monetary policy, political uncertainty in Europe, higher than expected domestic inflation and weak fiscal revenues.
The report includes a study on services trade in Indonesia. It proposes a reduction in Indonesia’s restrictions on services trade to improve productivity and competitiveness. According to OECD data, Indonesia has some of the most restrictive barriers to services trade.   Trade restrictions on services weaken the quality of those services and also impede the productivity of other sectors of the economy. Lifting these restrictions could therefore bring economy wide benefits
The March 2017 IEQ report also finds that the redesign of the Kredit Usaha Rakyat (KUR) program towards the provision of subsidized loans to micro, medium and small enterprises (MSMEs), has led to a ten-fold increase in the cost of the program. With more selective targeting, program costs could be much lower, and the savings could be redirected to other underfunded priority sectors in Indonesia.  There is a strong need to reconsider the use of subsidized loans to support MSMEs.

Please find below the link to the report


On behalf of the IEQ team.
Regards,
Derek




Derek H. C. Chen
Senior Economist
Macroeconomics and Fiscal Management
East Asia and Pacific

Friday, 17 March 2017

Sedekah untuk Bapak Sokarno - Dusun Plasan Watugajah Gunung Kidul


Sedekah untuk Bapak Sokarno - Dusun Plasan Watugajah Gunung Kidul


Bagi yang ingin beramal berupa infaq, shodaqoh baik berupa uang atau dalam bentuk lainnya dapat  Subur Joyojenggirat di Suburmart Parung Bogor 

atau melalui bank:
Nama:  SUWARNA
Bank  :   B N I
No rek:  01552 36202

bukti Transfer mohon dikirim ke no WA : 0857 1794 8327










Kanal Kra Thailand menghindar biaya masuk Selat Malaka

Kanal Kra Thailand menghindar biaya masuk Selat Malaka

Belum banyak yang tahu mungkin, gagasan pembangunan Terusan Kra yang melintasi Tanah Genting Kra dan menghubungkan Teluk Thailand dengan Laut Andaman telah muncul sejak ratusan tahun lalu. Namun berkali-kali, rencana ini timbul-tenggelam. Belakangan, ide untuk membangun Terusan Kra kembali mengemuka menyusul penandatanganan MoU antara the China-Thailand Kra Infrastructure Investment and Development dengan Asia Union Group pada tahun 2015.

Pemerintah Tiongkok sendiri mengklaim tidak terlibat dalam megaproyek tersebut.
Jika pembangunan kanal ini terwujud, Singapura disebut-sebut akan paling terkena dampaknya karena kapal-kapal nantinya tidak harus melewati Negeri Singa dan Selat Malaka.
Sementara itu, sebagian pihak berpendapat pembangunan Kanal Kra ini tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap Indonesia. RI justru diharapkan dapat mengambil peluang jika proyek ini benar-benar terlaksana.
"Kami mendiskusikan peluang yang bisa diambil Indonesia bila Kanal Kra dibuka. Namun untuk sementara kita akan melihat perkembangan situasi saja," terang Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan pada Desember 2016 lalu usai menyambangi Kepala Bappenas Bambang Sumantri Brojonegoro untuk membahas isu ini.
Harapan menyeruak, jika Terusan Kra dibuka maka Pelabuhan Sabang dan Pelabuhan Kuala Tanjung akan berkembang.
Terlepas dari kabar bahwa rencana pembangunan Terusan Kra ini adalah upaya China untuk membangun pengaruhnya di Asia Tenggara, namun yang pasti gagasan ini sejalan dengan cita-cita Beijing untuk mengembangkan jalur sutera maritim.
Seperti dikutip dari The Straits Times, Senin, (20/3/2017) berikut 5 fakta tentang Terusan Kra:

1. Apa itu Terusan Kra?

Kelak jika selesai dibangun, Terusan Kra akan melintasi Tanah Genting Kra, sebuah daratan sempit di Thailand Selatan yang menghubungkan Teluk Thailand dengan Laut Andaman.
Terusan Kra akan memiliki panjang 102 kilometer. Estimasi biaya pembangunannya sekitar US$ 28 miliar. Diperkirakan membutuhkan waktu delapan hingga 10 tahun untuk menyelesaikan megaproyek ini.
Dengan pembangunan Terusan Kra, kapal-kapal tidak perlu lagi lewat Singapura dan Semenanjung Malaysia sehingga mereka dapat memotong waktu perjalanan sebanyak 72 jam atau 1.200 kilometer.
Kapal juga dapat menghindari Selat Malaka yang padat, di mana aktivitas bajak laut di kawasan ini dikabarkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
2 dari 6 halaman

2. Sebuah proyek dengan sejarah 400 tahun

Ide pembangunan Terusan Kra ini pertama kali diusulkan oleh Raja Narai pada tahun 1677. Namun dalam perjalanannya kerap timbul-tenggelam.
Gagasan sempat mencuat pada tahun 1870-an, tepatnya setelah Terusan Suez ada dan menunjukkan bahwa kanal buatan manusia "layak pakai".
Pada tahun 1946 perjanjian Anglo-Thai melarang pemerintah Thailand membangun kanal tersebut tanpa persetujuan dari pemerintah Inggris. Britania Raya kala itu sudah melihat bahwa Terusan Kra dapat menjadi ancaman terhadap dominasi Singapura -- koloni Inggris -- sebagai hub pengiriman regional.
Rencana pembangunan kembali muncul pada tahun 1950-an dan 1970-an. Namun perubahan terjadi di setiap dekade, terutama ketika pemerintahan baru berkuasa di Thailand. Pada tahun 1980, Jepang pun sempat dikabarkan akan terlibat dalam proyek tersebut.
Di tengah kemajuan pesat ekonomi China, Thailand dikabarkan berpaling ke negara itu untuk membantu pembangunan Terusan Kra melalui kerangka joint venture.
Tahun 2014, pebinis Pakdee Tanapura, seorang anggota Komite Terusan Kra mengatakan kepada The Straits Times bahwa kanal tersebut dapat menjadi bagian dari rute jalur sutra maritim yang bertujuan meningkatkan konektivitas dan perdagangan melalui Laut China Selatan.
3 dari 6 halaman

3. Dampak bagi Singapura

Keberadaan Terusan Kra diprediksi akan mengurangi jumlah kapal yang melintasi Singapura. Ini tentu akan memukul Negeri Singa mengingat industri maritim menyumbang cukup signifikan terhadap PDB negara itu.
Pada tahun 2014, industri maritim menyumbang sekitar 7 persen terhadap PDB Singapura.
Meski demikian ada pula yang berpendapat, dampak dari Terusan Kra mungkin saja terbatas.
"Jarak memang penting, tapi kapal tentu mempertimbangkan layanan dan fasilitas. Fondasi dan reputasi pelabuhan Singapura yang telah terbangun tentu tidak bisa dengan cepat ditiru," ujar Li Zhenfu dari Dalian Maritime University.
4 dari 6 halaman

4. Dampak bagi Thailand dan China

Ekonomi Thailand tentu dapat didorong melalui proyek semacam itu. Belum lagi ditambah manfaat potensinya termasuk biaya pelabuhan, tol, investasi asing, dan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah.
Sementara bagi China, yang mengimpor minyak dari Afrika dan Timur Tengah, jarak tempuh pendek tentu berarti hemat waktu dan hemat uang. Sekaligus ini dapat menjadi pendorong bagi sejumlah pelabuhan China seperti di Shanghai, Hong Kong, dan Shenzen.
5 dari 6 halaman

5. Terancam Jadi Proyek Abadi

Analis mengatakan bahwa untuk biaya pembangunan kanal, yang mampu menghemat waktu tempuh 72 jam tidak cukup signifikan. Ada juga konsekuensi lingkungan dan pertimbangan keamanan.
Banyak pihak di kalangan rakyat Thailand sendiri disebut-sebut tidak akan senang dengan terusan baru. Karena jika selesai, maka Terusan Kra akan memisahkan empat provinsi di bagian selatan negara itu dari seluruh negeri.
Provinsi-provinsi tersebut memiliki riwayat menolak sejumlah ketetapan Bangkok dan diperparah dengan lahirnya gerakan separatis. Sekalipun kendala tersebut diatasi, pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah kemana jutaan warga yang tinggal di area pembangunan akan dipindahkan?